Pengalaman Hidup dengan Rokok

Kamis, 08 November 2007 22:14 WIB | Dibaca 2.551 kali
Pengalaman Hidup dengan Rokok
Setiap orang pasti punya pengalaman hidup dengan sesuatu yang ada di muka bumi ini, ada yang punya pengalaman di gigit monyet, ada yang punya pengalaman dikejar banci sampe pengalaman kencing dicelana dan juga tidak terkecuali pengalaman dengan yang namanya rokok. Tapi sebelumnya jangan negatif dulu, tentu para pembaca semua bukan semuanya penikmat rokok dan belum tentu juga saya seorang pemakai rokok sejati, ingin tau kan?

Sejak kelas 3 SD saya sudah mengenal semua jenis rokok dari yang mahal hingga BangJo (Abang Ijo) rokok yang biasanya dipakai oleh Ebeg (Barongan) di tempatku, tapi alhamdulillah dari mulai saat itulah saya belum pernah sekalipun menghisap rokok, kecuali pada saat kecil dulu sering membuat rokok-rokoan menggunakan klari (Daun kelapa yang sudah kering) saat disuruh ibu untuk menunggu tungku didapur. Saya kenal rokok karena mulai dari kelas 3 SD saya sudah terbiasa berbelanja rokok kepasar, saya masih ingat roko yang paling laku diwarung kecil yang keluarga kami kelola adalah Gudang Garam Filter, Djarum Coklat dan Sriwedari. Semuanya punya pelanggan masing-masing, hingga kelas 2 SLTP saya masih mondar-mandir kepasar membeli kebutuhan warung tidak terkecuali rokok, maka pantas saat itu walaupun masih kecil sudah sering memakai baju toko klontongan dan produk-produk rokok dan unilever.

Kelas 3 SLTP saya berharap tidak jualan warung lagi dirumah karena dirasakan hidup tidak nikmat, banyak yang menghutang dan paling tidak enak kalau sedang makan atau buang air ada yang bilang "Punten" tanda ada yang mau beli, iya kalau barangnya ada dan dibelinya kontan, beruntung, tapi ketika barang tinggal satu dan ternyata dihutang , wah masih inget siapa saja yang suka menghutang. Alhamdulillah harapan itu terwujud, ibu dan saya mulai mencoba berjualan Mie Ayam, kami memberanikan diri karena katanya bumbu mie buatan ibuku enak dan racikan mangkok saya lebih enak, pertama-tama kami jualan di Terminal Pangandaran, sayangnya kami harus berpindah karena katanya saat itu ada pembenahan terminal, akhirnya kami memutuskan untuk berjualan di Pinggir Pantai, ketemulah dengan sebuah warung yang saya beli didaerah dekat Pintu masuk cagar alam sebelah barat dan saat itulah saya kembali berjualan rokok.

Berbeda dengan saat berjualan dirumah, harga rokok di Pantai cenderung dijual lebih mahal, biasanya saya ambil margin 30-50 persen perbungkus dan tidak melayani ketengan kecuali untuk sesama pedagang, nelayan atau tukang parkir, karena target pasarnya saat itu adalah para turis lokal yang menyisihkan uangnya memang untuk berwisata. Selain perbedaan harga, rokok yang dijualpun sangat beragam mulai dari Sampurna, Dji Sam Soe, Mild, Bentoel, Marboro dan merek terkenal lainnya yang hilang hanya sriwedari karena hampir tidak ada yang menanyakan. Anehnya saya tidak sedikitpun tertarik untuk meroko, mungkin karena bapak tidak meroko jadi tidak biasanya saja melihat orang meroko bahkan terkesan aneh melihat orang meroko.

Penjualan rokok di pantai lumayan besar hasilnya, untungnya saat itu saya belum tau hukumnya berjualan rokok, menurutku jualan rokok sah-sah saja saat itu, yang tidak kami jual adalah Bir Bintang dan kondom. Tapi untuk rokok semuanya lengkap. Setiap akhir bulan saya selalu mendapatkan spanduk dari Djarum Coklat sebagai penutup warung di tepi pantai, dan hal itulah yang membuat saya gemar berjualan Djarum Coklat atau orang bilang "Samsu Tahlil".

Berjualan rokok berhenti seketika ketika saya mulai kuliah diploma satu taun 2002-2003, walaupun saya dan keluarga terus jualan Mie Ayam, tapi kami memilih disandingkan dengan minuman saja dari pada rokok, saya mulai tau hukumnya dan memang modal untuk rokok sangat tinggi sedangkan marginnya cukup sedikit. Hingga tahun 2006 kami terus berjualan setiap Pantai Pangandaran ramai, karena kalau tidak jualan maka di rumah pasti akan tidak ada teman sebab hampir satu RT di tempat saya berada dipantai semua. Semuanya berhenti ketika botol minuman, peralatan mie ayam, roda beserta warung yang biasa kami tempati habis disapu gelombang tsunami, tinggal tersisa kompor semawar dan buleng yang sudah tak berupa. Semuanya ada hikmahnya, setiap selesai Idul Fitri, saya tidak harus lagi berpanas-panasan jualan rokok dan mie ayam, walau terkadang rindu ingin "ngaladangan" dan yang pasti saya tidak harus jualan rokok terus, ternyata rizki dari jalan lain alhamdulillah sudah dibukakan (walaupun belum deras seperti keinginan diri dan nafsu duniawi). Begitu. Ada satu hal lagi ternyata dengan berjualan rokok saya banyak mengenal orang di Pantai, karena setelah membeli rokok biasanya diam di kursi sambil ngobrol. Jujur saat ini agak sedikit kurang nyaman kalau punya teman meroko dan selalu batuk jika menghisap baunya, apalagi kalau di mobil wah bisa mabok.

Bagaimana pengalaman sahabat dengan rokok ?

Adi Sumaryadi
Adi Sumaryadi
Tukang Mainan Internet, Senang berwirausaha, Paling Suka main di Pantai, Paling seneng makan Seafood, Tukang Nulis Bebas Apapun, Senang Buat Website, Narasumber dan Pembicara bidang IT.




Komentar


comments powered by Disqus

Artikel Lainnya